


Waspira News || Kab Bandung – Program dana desa telah menjadi salah satu tonggak utama dalam kebijakan Pembangunan perdesaan di Indonesia, sistem distribusi dana desa di desain inklusif dengan tujuan menjangkau desa-desa tertinggal yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat.
Diduga “Carut – Marut” Dana Desa Cimaung Kec Cimaung
Namun dalam pelaksanaannya program dana desa tersebut sering mengalami masalah yang dapat mengalami resiko penyalahgunaan wewenang, kualitas infrastruktur yang buruk. Kurangnya transparansi dan korupsi yang perlu di antisipasi.
Hal tersebut terjadi di Desa Cimaung Kecamatan Cimaung, dalam pelaksanaan program dana desa tahap 1 tahun 2025 dalam kegiatan Pembangunan infrastruktur.
Pagu anggaran sebesar Rp. 356.603.000,- yang di alokasikan untuk infrastuktur seperti Kirmir, Pemasangan Brojong dan Rabat Beton. Dengan volume 340 M x Lebar 3 M x Ketebalan 15 Cm yang berlokasi di Kp. Tiwulandu atas Jalan Ciririp Rt 09/04.
Warga Prihatin Pembangunan Rabat Beton Akan seumur Jagung
Menurut salah satu warga berisial DN (60) tahun yang mengatakan jika Pembangunan yang berada di Kp. Tiwulandu tersebut. Di kerjakan oleh pihak PPKD Desa Cimaung Kecamatan Cimaung. Adanya dugaan infrastruktur yang di bangun kualitas beton buruk, karna kurangnya perencanaan dan minimnya tenaga ahli dalam kontruksi.
“Dugaan Kami untuk bahan materialnya terkait kwalitas masih di ragukan, Dan menduga dalam hal ini pembangunan asal-asalan, juga akan cepat rusak bila sering terlindas motor dan mobil,” ujarnya.
Kini di pertanyakan sejumlah warga diduga terkait untuk kualitas bahan material di soal tidak sesuai dengan spesifikasi dengan Rancangan Anggaran Bangunan (RAB).
Warga khawatir kondisi ini akan berdampak seumur jagung untuk daya tahan jalan yang seharusnya menjadi infrastruktur penting bagi mobilitas sehari-hari.
Kepala Desa Susah di Hubungi
Sementara awak media Waspira pun mencoba menghubungi Kepala Desa Cimaung Neneng, terkait beredarnya pemberitaan yang beredar tetapi Ketika di hubungi lewat pesan singkat WhasApp tidak ada tanggapan.
Pembangunan infrastruktur harus di lakukan dengan perencanaan yang matang, material yang berkualitas dan tenaga ahli yang berkompeten.
Selain itu di katakan oleh KD dan AS selaku warga sekitar, yang menyayangkan dua mobil molen menurunkan bahan coran. Di pinggir jalan yang mau kelokasi pembangunan dan warga pun berbondong-bondong mengambil bahan tersebut menggunakan ember, ada juga yang membawa roda roli, cangkul dan sekop dengan alasan untuk memperbaiki jalan gang yang rusak.
Hal tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai mobil molen yang menurunkan bahan coran dengan tiba-tiba, Adapun alasan dari supir karna. Beban begitu berat sehingga mobil tidak bisa naik dan bahan coran pun di buang begitu saja.
Dengan adanya hal seperti itu, maka perlu di pertanyakan apakah dengan sengaja dibuang dan juga apakah pihak-pihak terkait mengetahuinya ??? sebab bahan coran dengan banyaknya dua mobil itu pasti memakan biaya yang cukup mahal.
Terkait Laporan Pertanggung Jawaban?
Dan juga pastinya hanya membuang anggaran saja, perlu adanya transparansi terkait LPJ pada public dan pihak terkait.
Lemahnya pengawasan sering kali terjadi, sehingga penyimpangan mudah terjadi. Dan perlunya memberikan sanksi tegas bagi para pelaku penyalahgunaan dana desa.
Meskipun langkah Pembangunan infrastruktur tampak menjanjikan, namun hal ini masih dinilai realisasi anggaran belum sepenuhnya efektif dan berpotensi mengundang penyalahgunaan anggaran terkait transparansi dan dampaknya terhadap Masyarakat.
Masyarakat menginginkan masalah ini agar segera di tangani di periksa oleh inspektorat dengan serius untuk permasalahan ini agar tidak terulang lagi. Tutur AS
Pewarta : Tim Investigasi
RedWN



Leave feedback about this