

BANDUNG, WASPIRA NEWS – Kemeriahan Milangkala Tatar Sunda: Warga Jabar Antusias Sambut Gubernur dalam Kirab Budaya di Gedung Sate
Kawasan bernilai sejarah di sepanjang Jalan Diponegoro menuju Gedung Sate, Kota Bandung, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari (16–17 Mei 2026).
Ribuan warga dari berbagai penjuru Jawa Barat tampak memadati sepanjang jalan protokol tersebut demi menyaksikan langsung Kirab Budaya Jawa Barat 2026.
Acara yang mengusung tema “Milangkala Tatar Sunda: Nyuhun Buhun, Nata Nagara” ini dimulai sejak pukul 18.30 WIB. Sebagai sebuah pesta rakyat, pergelaran ini sukses menampilkan parade seni, budaya, serta kekayaan tradisi yang menjadi simbol keharmonisan sekaligus keragaman di tanah Pasundan.
Ragam Budaya yang Memukau Penonton
Sementara itu, sejak pukul 19.30 WIB, antusiasme masyarakat yang hadir sudah tidak terbendung lagi. Kemeriahan malam tersebut terekam jelas dari berbagai parade pertunjukan khas yang melintas di hadapan publik:
Kirab Berkuda Gubernur Jabar:
Daya tarik utama malam itu terjadi saat Gubernur Jawa Barat beserta jajaran pejabat tampil berwibawa menunggangi kuda menuju Gedung Sate.
Selain itu, beliau beserta para tokoh masyarakat tampak serasi mengenakan pakaian adat khas Sunda, lengkap dengan beskap putih, kain batik, dan iket kepala, sembari melambaikan tangan dengan ramah kepada warga.
Pesona Penari Tradisional: Ketertarikan penonton semakin memuncak dengan kehadiran barisan penari tradisional yang berjalan anggun di sepanjang rute kirab. Menggunakan pakaian adat yang didominasi warna hijau dan merah keemasan serta membawa aksesoris tombak, para penari ini sukses menghidupkan nuansa sakral dan magis adat Pasundan.
Ikon Ondel-Ondel dan Seni Khas: Tidak kalah menarik, sepasang Ondel-Ondel raksasa dengan dekorasi kembang kelapa yang menyala terang. Juga menjadi magnet perhatian. Kehadiran ikon ini melambangkan kedekatan kultural serta pembauran wilayah suburban di Jawa Barat.
Parade Pewayangan Bernuansa LED: Keunikan kirab tahun ini terlihat pada barisan penari yang mengenakan kostum tokoh pewayangan modifikasi. Kostum tersebut di lengkapi dengan topeng berornamen lampu LED warna-warni, sehingga memberikan kesan modern tanpa menghilangkan esensi tradisi.
Antusiasme Warga yang Meluap
Di sisi lain, suasana malam di sekitar lokasi acara terasa sangat hidup. Di sepanjang pembatas jalan, ratusan gawai milik warga menyala serentak demi mengabadikan momen langka tersebut. Sorak-sorai penonton pun langsung pecah setiap kali rombongan kirab menyajikan atraksi atau berjalan mendekat ke arah barikade.
“Sengaja datang membawa anak-anak dari sore supaya bisa mendapat barisan paling depan. Acaranya seru banget, apalagi sekarang ada lampu-lampu modern di kostum wayangnya.
Anak-anak yang mendampingi justru merasa senang dan sama sekali tidak takut menyaksikan berbagai budaya ini,” ujar Gina (38), salah seorang warga Baleendah yang ikut memadati lokasi.
Oleh karena itu, guna mengantisipasi padatnya pengunjung, aparat keamanan gabungan bersama pihak panitia setempat tampak sigap menertibkan masyarakat yang membeludak.
Berkat pengawalan yang ketat tersebut, parade budaya yang berlangsung hingga melintasi tengah malam menuju Minggu (17/5) subuh ini dapat berjalan dengan aman, tertib, dan penuh sukacita.
Pada akhirnya, Kirab Budaya ini di harapkan tidak hanya menjadi hiburan musiman belaka. Namun, acara ini juga menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk terus mencintai, menjaga, dan melestarikan warisan leluhur Jawa Barat di tengah arus modernisasi yang kian deras.
(Pewarta : AAbeng-RedWN)



Leave feedback about this